Empat Puluh Lima Lembar

​”Gemas banget, Pak. Emang ya, penulis buku itu susah-susah bikin karya kadang nggak dihargai. Udah gitu pajaknya tinggi banget.” 

Bapak melongok, mencoba mencuri lihat apa yang aku baca lewat gawai. Aku memperlihatkan layar gawai, menunjukkan artikel dan juga tulisan seorang penulis kelas nasional yang memutuskan tidak lagi menerbitkan bukunya.

Embuh lah, Bapak nggak ngerti.” Bapak kembali meraih cangkir teh panasnya, aku memberengut.

Aku duduk mencangkung di sofa depan televisi. Masih membaca banyak hal yang membuatku kesal hari ini. Ya apalagi, soal pajak penulis yang tinggi itu. Seharian ini nyaris sepertiga grup WhatsApp membahas hal itu. Mau tak mau aku mengikuti, walau awalnya tak paham juga.

“Pajak ngapain dipikir repot sih, Nduk. Diniatin aja sedekah…” 

“Iya sedekah ke pemerintah masa, Pak… Tetangga desa sebelah yang fakir miskin aja jarang-jarang dikasih sedekah.” Aku masih tak terima. Ikut tersulut juga setelah mendengar penjelasan soal pajak. Ah, rumit. Tahunya gaji dipotong saja sudah.

Aku memang tidak bekerja sebagai pekerja kantoran seperti Mas dan Adikku. Sudah 2 tahun ini aku di rumah, bekerja dari rumah. Menulis berbagai hal, yang sejak dulu aku inginkan. Pajak awalnya tidak menjadi perhatianku, bahkan aku terkesan masa bodohlah dengan semua itu. Tiba-tiba saja aku tertarik dengan pembahasan pajak penulis ini.

“Memang kamu menulis buat apa sih, Nduk?” Bapak bertanya, tapi nadanya bercanda. Sudah begitu sambil mengelus Gentho, kucing keluarga kami yang hitam gendut itu.

“Yaaa buat cari nafkah lah, Bapak…” 

Diniatin sing bener, Nduk. Kalau cuma buat uang dan dunia, mau kerja apapun nggak akan pernah cukup. Begitu juga kamu menulis, coba diniatin yang baik. Nyebar kebaikan, atau apalah. Diniatin cari jodoh juga boleh.” 

Aku merengut, “Kan…mulai lagi jodoh-jodohnya.” 

Bapak cuma nyengir.

“Ibumu dulu penulis lho, Nduk.” 

Wah! Fakta apalagi ini?

“Eh? Apa iya, Pak? Kok aku nggak pernah tau?” Bapak nyengir lagi.

“Bapak ini nyengir terus… Beneran, nih?” Aku serius memandangi Bapak di sampingku.

“Ya beneran. Tapi habis Masmu lahir, udah nggak sempat nulis lagi. Wong udah kerja juga di Dinas itu. Ngurus bayi juga. Wis ra kober, Nduk.” 

Aku ber-oo panjang.

“Ibumu dulu romantis, lho. Lebih romantis dari Bapak. Wong masa persiapan pernikahan setelah lamaran itu, kan ada 45 hari. Nah ibumu buat puisi setiap hari 1 puisi. Pas hari pernikahan, pas udah sah, dikasih ke Bapak satu bendel puisi bikinan Ibumu. Diketik pakai mesin tik! Opo nggak makin cinta,” Bapak terkekeh.

Aku ternganga tidak percaya. Masa iya Ibu yang bawel begitu bisa romantis bikin puisi segala. 

“Waktu itu mana pernah ibumu mikir pajak. Ibumu sukanya nulis, ya dia nulis. Apa saja dia tulis. Kalau pas dimuat di koran, alhamdulillah. Bisa nambah uang belanja. Demi kalian saja, ibu sudah merelakan dunia menulisnya. Ibumu seneng banget waktu tahu ternyata kamu mewarisi kesukaannya dulu waktu muda. Rasanya plong, kata Ibumu. Ibu nggak pernah cerita to, ke kamu?” 

Aku menggeleng.

“Yaiyalah kan cintanya ke Bapak lebih besar jadi apa-apa pastilah cerita ke Bapak bukan ke kalian,” Bapak tertawa lagi.

Yaampun rasanya gemas punya orang tua seperti Bapak ini.

“Terus, bendelan puisi Ibu masih ada, Pak?” Aku penasaran, sungguh.

Bapak mengangguk, “Adalah. Itu buku salah satu tanda cinta ibumu ke Bapak dulu. Mana mungkin hilang atau diloakin.”

“Yaampun Ibu kok bisa romantis gitu, Pak?” Rasanya ingin aku memeluk Ibu yang sedang arisan RT dan lupa waktu kalau bergosip dengan ibu-ibu yang lain itu.

“Pengen ikut romantis juga? Makanya cari suami… Yang kaya Bapak, minimal.” Bapak beranjak sambil menggendong Gentho.

“Bapaaaakk…!” 
Selesai.

Jumlah kata : 599 kata.

#NulisKilat (walau telat) 

Menyembuhkan Luka ala Puthut EA

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

[sebuah review gadungan]

WhatsApp Image puthut ea

Judul Buku : Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Penulis : Puthut EA

Penyunting : Eka Kurniawan

Jumlah halaman : 263

Penerbit : Buku Mojok

Aku, seseorang yang tengah patah hati dari cinta, dan berusaha menyembuhkan luka. Caranya-seperti banyak quote  yang bertebaran di dunia maya- adalah menemukan cinta yang baru. Tetapi kenyataannya, jatuh bangun kehidupan cinta “Aku” justru makin membuatnya trauma dengan cinta.

Aku tidak ingin cinta yang sejati. Tapi, biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang yang beruntung mendapatkannya. (hal 8)

Sejujurnya, ini adalah buku pertama Puthut EA yang saya baca. Saya memutuskan membeli buku ini karena (1) judulnya dan (2) format novel. Setahu saya, Puthut lebih banyak menelurkan buku kumpulan cerpen, jadi saya memilih buku ini. Semata-mata karena saya lagi pingin baca novel (dan pas diskonan pula).

Novel ini bahasanya ringan dan ngalir. Tidak menggunakan kosakata dan diksi belibet. Saya menikmati setiap kata sembari mengimajinasikan dalam kepala. Kondisi tokoh utama yang mengenaskan, bisa jelas terasa. Begitupun dengan perempuan-perempuan yang hadir dalam kehidupan cintanya, tak pernah tepat waktu.

Move on, jelas bukan pekerjaan mudah. It’s hard but you can. Ada kenangan dan rindu yang siap-siap menikam. Tanpa aba-aba. Hal itu cukup membuat “aku” frustrasi hingga menenggelamkan diri dengan alkohol dan psikotropika. Badannya jadi sering sakit dan demam mendadak.

Kenangan itu seperti kubangan lumpur hidup. Tanpa sadar kita telah terperosok di dalamnya, dan ketika kita mencoba untuk keluar dari kubangan itu, ia semakin menyedot masuk. (hal 173)

Walaupun alurnya maju-mundur, saya tetap bisa menikmati novel ini. Mengetahui apa yang terjadi dan mengapa begitu secara komprehensif. Pun bagaimana “aku” mengobati lukanya, membuat saya juga tertarik melakukan hal itu. Penasaran. Namun saya sampai di akhir tetap tidak menemukan siapa sih nama si tokoh aku ini?

Nah, sepertinya novel ini memang bersumber dari kisah nyata. Di bab “Kania, Perempuan Itu” tokoh “aku” menceritakan pertemuannya dengan Puthut EA, Eka Kurniawan,dkk dan rencana Puthut menovelkan kisah “aku”.  Di halaman Ucapan Terima Kasih saya juga menemukan nama-nama tersebut.

Ingatlah, salah satu tugasku yang paling menyenangkan adalah mencoba memberi harga pada berbagai peristiwa, juga hal-hal yang sepintas dianggap tidak menyenangkan. (hal 246)

Jadi Bung N, bisakah kau ajari saya menyembuhkan luka?

 

~Jogja, ditengah lagu2 NDX 

Quatervois Clavis [D18]

Saat itu adalah hari yang cerah dan dingin di bulan April dan jarum jam menunjuk angka tiga belas. Kotaku memang unik. Di sini, kami menggunakan benar-benar 24 jam dalam satu lingkaran jam. Kalau kalian hanya memiliki 12 angka, kami memiliki 24 angka. Aku melangkah sedikit cepat menyusuri tepian Sungai Bengawan, menuju Taman Kota. Ada yang menungguku di sana, semoga aku tidak terlambat.

“Kamu terlambat 2 menit.” Suara itu menghentikan langkahku. Aku melihat ke depan dan menemukan seraut wajah jengkel yang dihiasi rambut coklat kemerahan. Outer hitam dengan dress biru dongker selutut dan sepatu kets putih melengkapi penampilannya.

“Maaf, Kyna. Kamu tahu aku sibuk belakangan ini.” Aku menghempaskan tubuh ke bangku hijau di belakang Kyna.

“Bukan alasan untuk kemudian benar-benar tidak pulang ke rumah, Darren.” Kyna mendelik dan duduk di depanku. Aku tersenyum sinis.

“Aku sudah memutuskan untuk pergi dari rumah. As a man, Kyn. Aku tidak akan menarik kata-kataku.”

“Beda pandangan politik tidak harus menghancurkan keluarga kita sendiri, Darren! Mengalahlah sedikit pada Papa, ingat dari kecil siapa yang menghidupi kita. Kamu bahkan menyusu dengan uang yang Papa dapatkan dari permainan politiknya!” Kyna menatapku tajam.

“Memangnya aku bisa diam saja ketika aku tahu siapa teman-teman Papa di balik pemerintahannyaa? Tidak, Kyn. Aku bisa dianggap berkhianat kepada bangsa ini.”

“Kamu mau jadi pahlawan?”

Aku tergelak. Kyna menyedekapkan tangan di depan dada. Rambut sebahunya beriak ketika angin melewati kami berdua. Kyna bukan lagi gadis kecil yang bisa aku bungkam dengan sebatang cokelat ketika dulu aku kabur dari rumah. Pergi dari rumah adalah keahlianku, walaupun aku akan menyerah dan kembali. Tetapi tidak kali ini, aku benar-benar pergi setelah Papa menuduhku melakukan kecurangan politik untuk menjegal langkahnya menjadi Kepala Dewan Kota. Kami bertengkar hebat selama 2 jam dan baru berakhir ketika aku memutuskan pergi dari rumah.

“Hei, Darren. Katakan padaku, dimana rasa terimakasihmu pada Papa sampai kamu bisa sebesar ini dan hidup enak seperti ini. Tiba-tiba kamu menyerang Papa dan mengatakan hal-hal buruk selama Papa menjadi negarawan. Kamu kira kamu ini siapa?”

Cengiranku bertambah lebar,”Negarawan katamu? Oh ayolah, Kyna. Siapa yang menyuruh aku sekolah di Ilmu Politik dan Pemerintahan, coba? Papa. Kenapa? Ya karena Papa mau mewariskan jabatan politiknya untukku nanti. Bagaimana mungkin? Nothing impossible, Kyn. Orang-orang di belakang Papa itu, aku tau semua track record-nya. Itulah kenapa aku menolak satu gerbong dengan Papa. Aku tidak bermaksud menjegal Papa, tapi Papa menganggap seperti itu. Aku mundur, Kyn.” Aku mengambil sekaleng minuman ringan dari dalam tas ransel dan meneguknya.

“Kamu sok tau, Darren.” Kyna beranjak sembari mengatakan itu.

“Mau kemana?”

“Ikut aku, aku tunjukkan sesuatu.” Kyna lebih dulu berbalik, berjalan menuju matahari terbenam.

“Hei.” Setengah berlari aku mengikuti Kyna yang berjalan lebar. Sejak lari adalah jiwanya, Kyna tidak pernah membuang waktu dengan melangkah pelan.

Kami berjalan dalam diam, menyusuri beberapa bangunan kota. Melewati Bank Sentral, menuju Stadion Kota, kemudian berbelok di salah satu gang.

“Kyna, mau kemana ini sebenarnya?” Aku menyenggol Kyna pelan.

“Aku tidak tahu apakah ini akan mengubah pandanganmu atau tidak, yang jelas aku menemukan ini sepekan lalu, tiga hari setelah kamu pergi.”

“Soal Papa?” Kyna hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas.

Kami sampai di depan sebuah gedung 2 lantai. Jaraknya sedikit lebih jauh daripada bangunan di sekitarnya. Tidak terlalu besar, tetapi terlihat bahwa bangunan itu terawat dan memiliki aktivitas di dalamnya.

Aku menoleh mendapati plang besar di sisi kanan bangunan berwarna coklat putih ini. Tulisan dengan font Arial memadati plang itu.

“Sekolah Harapan. Apa ini, Kyn?” Kyna tersenyum, melangkah masuk lobby gedung dan bersiap memberikan penjelasan kepadaku.

“Darren Clavis, tiga menit lagi kamu maju ke podium. Now it’s your turn, jangan sia-siakan itu.” Suara Andrea menarikku dari kepingan fragmen sepuluh tahun lalu. Aku tergeragap dan melempar senyum padanya. Jarum jam di dinding menunjuk angka 18.

Aku bangkit dari sofa menuju cermin, seraut wajah yang sangat mirip Papa hadir di sana. Penjelasan Kyna waktu itu membuatku berpikir banyak dan kembali ke rumah untuk menemui Papa. Papa ternyata membangun sekolah gratis untuk anak-anak tidak mampu. Tidak hanya itu, Papa memberikan modal kepada orang-orang yang selama ini termarginalkan bahkan dari hidupku. Aku pernah bilang kalau Papa bersama komplotannya melakukan banyak kecurangan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan membuat kebijakan-kebijakan pro-kontra ketika menjadi Ketua Dewan Kota. Yang kudapatkan justru sebaliknya.

“Papa tau, Papa salah karena bergabung dengan mereka. Papa hanya tidak ingin membiarkan mereka berkuasa tanpa bisa berbuat apa-apa. Melawan mereka, tidak semudah yang kamu bayangkan. Itulah kenapa Papa bergabung dengan mereka untuk membangun semua hal yang kamu sebutkan tadi. Membersihkan rumah tidak bisa hanya dengan melihat dari luar dan menyumpahinya, Clavis. Kita harus masuk, membawa amunisi kebersihan dan bergerak. Papa tau semua itu penuh dengan resiko, itulah kenapa Papa butuh kamu nantinya untuk bersama Papa. Pun ketika kamu sekarang memang berseberangan dengan Papa, tidak ada masalah bagi Papa. Kamu hanya harus berjanji, berkuasalah dan jangan seperti mereka.”

Kata-kata Papa malam itu setelah seharian bersama Kyna, kembali terlintas. Aku merapikan setelan jasku. Malam ini giliranku, Pa. Aku menjadi Wali Kota.

–end–


  • tema hari ini: lanjutin kalimat pertama di novel George Orwell. Saat itu adalah hari yang cerah dan dingin di bulan April dan jarum jam menunjuk angka tiga belas.
  • gezz, sebenarnya aku lagi nyelesein cerpen lain. Tapi lupa ada tema ini buat challenge hari ini. Yasudah ini aku buat nyaris  tanpa semedi, hiks.
  • Mohon komentarnyaaa, kritiknyaaa, sarannyaaa. Aku tau ini bukan “my best” tapi ide ini pernah menjadi ide dasar draft awal salah satu novelku yang nggak jadi-jadi karena cuma mentok  di outline doang dan tentunya dengan masalah yang lebih kompleks  dari sekedar ini. Ulala~
  • Quatervois : titik balik seseorang dalam pemikiran ataupun tindakannya

Di Ujung Jalan

Jalanan mulai sepi, keramaian jam-jam pulang kerja mulai berkurang. Aku melangkahkan kaki sedikit lebih cepat, mengusir semua benak yang tetiba menghampiri fikiranku. Bagunan ruko di kanan jalan. Persawahan di kiri jalan. Angin yang sedikit mengacak rambutku.

Tidak bisa, fikiran itu masih saja menari. Berjalan bersama setiap dua hari sekali, di sore hari. Kegemaranku, juga dia tentunya. Ah tidak, kegemarannya yang kemudian menular padaku. Sampai pada saat ini, aku tak bisa meninggalkan kebiasaan itu. Sembari membicarakan hal-hal yang entah penting atau tidak.

Aku seperti mendengar suaranya sekarang. Continue reading

Kamuflase

???????????????????????????????

“Jangan bersedih lagi,”kataku sambil melempar senyum padanya. Dia hanya melirikku sekilas.

“Sudah sejauh ini, dan aku tak mendapat apapun. Apa menurutmu aku harus jingkrak-jingkrak kesenangan? Gila kamu,”

“Aku tak menyarankan itu padamu, hei. Sudahlah, bagaimanapun kamu sudah berjuang. Masih banyak kesempatan lain, kan? Mungkin ini salah satu momentummu,”

“Lanjutkan, dan aku muak mendengar kamu berbusa seperti motivator sialan itu,” Continue reading

Aku Ingin Menyapamu

Aku ingin menyapamu.

Sungguh, aku tak sanggup lagi. Tak sanggup dengan hanya menatap tak sengaja kedua manik hitammu. Kelam. Sangat hitam. Dan aku terpesona hingga paru-paru terhenti menghisap udara. Sesak. Aku tak sanggup. Batinku luruh. Entah berapa kali kau, melakukan itu. Melakukan hal yang sama, menatap mataku dengan cepatnya. Mungkin aku yang naïf, menganggap ini semua suatu tanda. Ataukah aku yang harus menerima dengan lapang, bahwa ternyata ini hanya ilusi belaka.

 

Aku ingin menyapamu.

Dalam sebuah keterdiaman yang membeku. Menatapi sisi hati masing-masing yang lain dengan kaku. Aku dengan bodoh masih menanti sebuah kata yang kiranya kan mengalir tanpa kau sadari. Sial. Ternyata aku masih saja tak bisa memahami. Bahwa kebisuan itu hanya untukku. Mengalunkan nada kepahitan yang menelan jiwa. Terlalu indah untuk aku pahami. Bahwa memang sekarang bukan saatnya memaksamu berkata. Namun masih saja, aku tak mampu meredam sesak yang tumpah ruah di dada. Continue reading

Cantik #FF1

Ah… hari ini aku disini lagi. Menatapi indahnya senyummu dari pinggir jendela. Menikmati setiap momen yang begitu berharga untukku. Mataku menyebarkan pandangan ke seisi ruang. Tampak mereka terkagum dengan gaya bicaramu. Aku tersenyum. Aha! Sepertinya seorang siswa perempuanmu di ujung sana juga memperhatikanmu dengan tatapan berbeda.

Tiba-tiba kau menatap ke arahku.
“Cantik….” sederhana saja itu, dan aku nyaris pingsan ketika kau katakan itu dengan senyummu yang sangat sangat sangat memikat ! Aaah kenapa coba aku ini. Banyak orang bilang aku cantik. Ya ya yaa ini hasil kerja kerasku dan tentu juga, nikmat dari Tuhan. Continue reading