Dokumentasi [D28] 

​Aku melangkah tergesa memasuki kamar, di belakangku Fatim mengekor waspada seperti takut aku melakukan hal berbahaya. Binder bercover transparan di atas meja menjadi tujuanku. Suara kertas tercerabut paksa membuat Fatim berteriak,

“Nisha! Kamu ngapain?!”

Aku terisak sambil mencabut paksa kertas-kertas itu. Fatim merebut binder dan menjauhkannya dariku.

“Nis, nggak gini caranya…” Sekarang Fatim duduk di tepi ranjang, aku masih menunduk terisak membelakanginya di tepi meja. 

Aku berbalik perlahan, menatap Fatim penuh kesedihan dan berkata penuh tekanan, “Aku benci menulis.” 

Fatim terperanjat. Matanya menyalang binder yang dia dekap sendiri.

“Jangan bilang kamu…”

Aku berteriak dengan frustrasi, “Ya! YA FATIM, AKU MENULIS SEMUA TENTANG DIA DI SANA!”

Fatim terdiam, mengambil salah satu kertas yang sudah jatuh tercabut. Aku terlalu sibuk menyeka air mata sampai tidak peduli apa yang Fatim baca.

“Kenapa harus aku yang jadi seksi dokumentasi dan menyimpan semua ini! Sampai-sampai ketika dia pergi harus aku juga yang menyimpan kertas-kertas ini!”

“Kamu yang memilih peran itu, Nis. Reehan bahkan tidak pernah meminta kamu.” Fatim membuka binder perlahan. Aku tidak sanggup bahkan sekedar meliriknya.

Binder itu berisi semua puisi, prosa, cerita, sketsa, semuanya. Semuanya tentang kamu, semuanya tentang kita. Mimpi-mimpi kita, rencana kita, kesukaan kita. Lalu semua terasa hilang dalam satu sentakan begitu kamu memilih pergi.

Pergi dari semua harapan-harapan masa depan kita. Tepat di hari ulang tahunmu. 

“Maafkan aku,” cuma itu katamu.

Punggungku melorot dan terduduk di lantai. Fatim tidak terlalu peduli, hanya menatapku sejenak dan merebahkan tubuhnya. Semua yang kamu bilang, terlalu jelas meski hanya pelan saja. 

Pantas saja kamu perlahan pergi, pantas saja kamu selalu sibuk dengan duniamu.

“Maafkan aku, kanker pankreas ini, aku tidak bisa lagi melawannya. Maafkan aku, Nisha.”

Pantas saja sore ini kamu memintaku datang ke rumahmu setelah sepekan lalu kamu bilang sedang touring sepuluh hari. Bohong.
————————–

*tema : nulis cerita pendek dengan kata2 meja, hilang, menulis

*parah br ditulis skrg. Awalnya sih ngga mau nulisin, tp okelah gpp ditulis ajah haha. 

Lost and Found [D14]

Dear, tidak ada yang hilang di muka bumi ini. Yang ada hanyalah berpindah tempat atau berubah wujud. Neither lost nor found. Everything. Our stuff, our last, our memories, our beloved someone.

Jika ditanya mengenai barang yang hilang, oh, berpindah tempat maksudku, ada beberapa barang kecil namun berarti.

1. Bolpoin

Sejak jaman SD sampai sekarang, bolpoin selalu jadi barang yang paling sering hilang. Entah dipinjam dan nggak balik, entah jatuh, entah lupa taruh. Yah, menyebalkan sekali kalau harus beli berkali-kali bahkan sebelum tintanya habis. 

2. Karet rambut

Tau karet rambut cina nggak? Itu yang tipis kecil-kecil. Beli segepok, tinggal sehelai. Duh menyedihkan. Dan entah kemana saja itu karet.

3. Peniti

Penting buat ciwi-ciwi berhijab kaya aku, tapi barang ini Subhanallah banget suka menghilang. Padahal nggak mungkin peniti putus atau gimana , kan? Misterius.

Ohya, tidak ada  yang hilang, hanya berpindah tempat. Entah dimana tempatnya. Begitu kah kita nanti?
xxi amplaz, 14des16

Masih Milikmu

image

Pada dasarnya, semua yang ada di dunia ini, termasuk kamu, adalah milik Allah. Mutlak. Hakiki. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Lalu kenapa musti bingung dan marah jika sebagian kecilnya diambil?

Ah, kemarin, mengingatkan aku pada satu titik. Dimana bahwa Allah sedang menguji, percaya nggak sama rezeki Nya?

14.50 WIB
Aku keluar dari warung makan dekat kontrakan dengan langkah biasa, santai, tak tergesa. Begitu juga kawanku di sebelah. Kami bahkan masih sempat bercanda soal jas hujan di parkiran. Aku dan dia berpisah, aku ke studio, dia pulang ke rumah. Continue reading