Rainy Days

Sudah memasuki waktu hujan datang setiap hari!

Dua hari berturut-turut aku sampai kantor dalam keadaan basah; di kaki, rok, jilbab. Entah, aku belum menemukan gimana caranya aku bisa kerja di awal hari dengan tenang tanpa merasa kedinginan seperti ini.

Kemarin, aku tahu hujan masih turun sewaktu aku mau berangkat kantor. Tapi aku sudah ada janji ke daerah barat DIY pukul 08.30 jadi aku memutuskan berangkat dengan kondisi hujan lumayan deras. Ah, mantelku mulai rembes! 😦 Sedihlah rasanya, baru sadar hari itu juga. Sampai kantor hampir basah kuyup. Beruntung aku bawa kaos kaki cadangan, lumayanlah enggak bikin kakiku berkeriut lebih parah.

Dannn… enggak jadi janjian, dong. Karena hujan deras hampir di seluruh DIY. Gusti…sabar…

Hari ini sebenarnya enggak deras. Aku sih rasain itu di belakang rumah kontrakanku. Cenderung terang, bahkan aku berharap matahari bakal berani keluar hari ini. Demi cucian! Demi gantungan jemuran yang selalu penuh! Demi lemari baju yang nyaris kosong! Tolong kamiiiii! Hahahahaaa XD

Aku sudah senang, sih. Berangkat ke kantor dengan bahagia gitu. Sampai di Mirota, Sagan…lha lha lha…kok deres?? Akhirnya aku mampir ke pom bensin buat isiin motor terus pakai mantel fullcolour kebanggaanku. Hujan makin deras, makin deras…dan makin deras… sampai kantor dengan kuyup lagi 😦 Ulala…

November Rain, Gede-gedene sumber (Desember), hujan sehari-hari (Januari) –masih lama yaq musim hujannya XD

Emang perlu beli mantel baru kok aku ini. Bukannya aku enggak suka hujan, bukan gitu. Aku juga bukan penggila hujan yang berlebihan menganggap turunnya hujan adalah turunnya seluruh kenangan dari langit masa lalu. Hehe. Kenangan sebanyak apa yang bakal turun kalau hujan berbulan-bulan begini??

Enggak nyaman kan, berangkat kerja basah kuyup. Masih kerja seharian pula. Masa iya aku harus bawa baju ganti. Alamak, banyak-banyakin cucian aja. Cucian 3 hari lalu aja belum kering, kosong benar nanti lemari bajuku. Hu hu hu.

Hujan, baik-baik sama aku ya 🙂

 

 

Photo by Dan Gold on Unsplash

 

VPhoto by Dan Gold on Unsplash

Tidak Selamanya

image

“Maybe you will leave me someday, but our memories don’t.” (Izzaty, 2016)

Selarik kalimat yang aku tulis di akun twitter dan juga facebook-ku tetiba menjadi viral. Agaknya, kalimat itu menyinggung perasaan sebagian besar teman-temanku. Baper, kata mereka.

Tetapi aku sendiri baru menemukan kalimat itu -tentu saja hasil kontemplasiku- semalam. Aku mengingat beberapa perjalanan “persahabatan” yang aku lalui sendiri. Beberapa masih sejati, lebih banyak lagi yang kandas menepi. Dan mulailah aku menyalahkan diri sendiri.

Aku kah yang membuat mereka sakit hati? Ucapanku yang kasar kah? Perilakuku yang tak sopan kah? Tulisanku yang sarkas kah?

Well, kuberitahu saja. Tidak akan ada yang abadi. Entah bagaimanapun kamu menjaganya mati-matian. Persahabatan, cinta, usia.

“Hati bertemu hati tidak lagi sejati,” kata Farid  FSTVLST.

Lebih lagi ketika kamu mulai berusia, maksudku usiamu bertambah, tentu saja. Lingkaran pertemanan, pergaulan, jejaring anggota, akan berubah seiring usia, waktu, serta minatmu. Jadi ayolah, tidak perlu mendramatisir sebuah perpisahan.

Sudah kukatakan lagi, kamu mungkin akan meninggalkanku suatu hari, tapi memori kita tidak. Maha Besar Allah yang memberi kita memori. Sehingga aku bisa mengingat memori tentang kamu. Seberapapun menyenangkan, seberapapun menyedihkan.

Pun jika memori yang kuingat adalah ketika aku menyakiti hati kamu, lalu aku bisa apa?

Jogja, 16 Juni 2016

#TantanganHujanKarya1437H
#Day2

Remah

pagi ini sangat cerah. semestinya aku lalui dengan berbagai rencana yang aku susun semalaman. ya, sudah aku lalui. ya, aku sudah mencoba. senyumku teramat lebar pagi ini.

lalu mendadak mereka bertanya tentang mu padaku. lalu mendadak aku seperti beku. menatap mereka tanpa sadar dengan lidah kelu. dan kembali lagi….

remah remah kenangan itu mencuat lagi. kenapa tak pergi dibawa angin saja? kenapa remah itu justru melekat di memori? rasanya justru menusuk nusuk otak. ah, ya. dan hatiku juga.

dan bagaimana aku bisa lupa jika tanpa perlu melakukan apapun aku masih bisa melihatmu? setidaknya melihatmu dalam ingatanku. dan bagaimana aku bisa lupa jika tanpa perlu melakukan apapun kau masih bisa terselip dalam rancunya mimpi mimpi malamku?

remah itu takkan hilang. dia lekang dalam kenangan.

 

diantara tumpukan barang2 KK

untitled050513

“kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. selama kita diam dan ngga berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu, ngga akan pernah jadi kenyataan.”― Dee – Perahu Kertas

akan ada di suatu masa, ketika tetiba suatu kenangan itu terhapus. semakin kau ingin mengingatnya, semakin sakit otak memikirkannya. jalan terbaik bukan melupakan. namun  berdamai. berdamai dari amarah. berdamai dengan kenangan yang sudah terhapus secara mendadak.

 

 

suatu siang di sudut kamar,