Bintang Malam

“Boleh aku duduk di sini?”

Tanpa menunggu aku menjawab, kamu menjeplak di sebelah kananku, berbaring telentang bertelekan lengan. Aku tersenyum samar. Katanya tadi minta duduk aja, batinku geli.

“Bintangnya nggak keliatan ya, Ran. Aku rasanya pengen pulang kampung aja, kalau di rumah tuh bintangnya banyaaak banget dan kita kayak deket sama langit. Heeemm kereeen…”

Kamu bercerita lirih, seakan takut menggangguku. Tapi nada suaramu, ceria. Aku melirik dengan ekor mata, senyummu tak ada habisnya. Hey, aku terpesona lagi? Ah ya, aku terpikat padamu setiap detik, menit, jam, hari, bahkan tahun. Tapi toh kamu tak akan pernah tau. Aku yang cemen, belum siap kalau harus menjadikanmu kekasih. Hah, hidupku saja masih berantakan, beraninya aku mengambil tanggung jawab anak orang.

“Ran, ngelamun apa, sih? Diem aja dari tadi,” Kamu bangkit dan mencolek lengan ku.

“Emang aku mau ngelamun, Lin. Kamu tibatiba dateng, ngeganggu aja,” jawabku asal sambil memeletkan lidah. Kamu merengut. Aku tau kamu pura-pura.

Aku tertawa dan ikut bangkit. Menghadapmu yang sedang tersenyum lucu. Halo, binar di matamu kenapa begitu jelas?

“Seneng banget, habis dapet gaji tambahan?”

Kamu tertawa,”Bukaan, hehehee…”

“Terus?”

Bola matamu berputar-putar. Masih dengan senyum jenaka yang bahagia.

Kamu mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Kudekatkan corong kuping ke mulutmu. Kamu membisikkan sesuatu, seakan hanya aku yang boleh tau. Kata-kata itu begitu jelas, sejelas bintang di rumahmu yang kamu sebut tadi.

“Selamat ya,” Aku tersenyum manis sekali, cuma untukmu.

Kamu saking bahagianya mengangguk kencang lalu kembali berbaring telentang. Aku masih duduk bersila, menatap langit malam minggu yang cuma ada rembulan sabitnya.

“Arga melamarku jadi istrinya,” bisikmu tadi.

Aku ikut bahagia.

Tapi sedikit luka.

–end–

#FF2in1 part 1 (Yovie n Nuno- Malam Mingguku)

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku