Payung Hitam

adult-1867665_640

Sewaktu panas mulai meniup keras, semua orang mengutuk di bawah derai kipas. Lain waktu ketika hujan menderas, tidak sedikit manusia mengeluh basah dan diam bergelung selimut.

Tidak semua orang, tidak pula aku. Berpayung hitam tanpa alas kaki apalagi sepatu, lampu bangjo menjadi satu-satunya kawanku. Nyala merahnya setiap 80 detik sekali, mengingatkanku pada batuk Bapak yang tak kunjung mereda setelah seminggu. Seperti hujan malam ini, kukira tidak akan ada habisnya juga.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menunggu. Tanganku sudah mulai gemetar, merasakan jerihnya dingin Januari awal. Bayangan PR menulis puisi melintas di otak tidak terlalu pintarku. Ya, karena pintar masih didominasi volume bangun ruang, mean-median-modus yang sampai sekarang aku tidak paham menghitungnya. Aku sedikit tenang, karena kelas Bahasa Indonesia masih di pukul 10. Setidaknya ada waktu 3 jam untuk mencuri waktu menuliskannya.

Aku harus mendapatkan paling tidak sepuluh ribu malam ini. Kurapalkan doa-doa dalam hati. Sial, aku tidak pernah ikut mengaji di mushola. Kesempatan menghapal doa hanya kudapatkan di sekolah, itupun tidak jauh dari doa makan. Baiklah, mungkin doa mau makan bisa menambah penghasilanku malam ini.

Bus TransJogja yang berhenti di seberang tidak mencuri perhatianku. Sampai ketika seorang perempuan seusia guru Ilmu Sosialku turun dari tangga halte. Tidak, aku tidak memperhatikan parasnya, terlalu temaram cahaya lampu jalan. Lebih terang logo di tas tangannya itu daripada lampu. Pernah kulihat logo itu di etalase salah satu penjual tas XT Square, pasti mahal. Mengkilap pula warna hitamnya.

Kira-kira ada berapa lembar uang merah di tas kecil itu? Ah, aku hanya butuh satu saja untuk beli obat batuk Bapak. Kulihat di iklan tv milik Eka, ada obat batuk yang sekali telan bisa langsung menyembuhkan. Aku harus bisa mendapatkannya.

“Dek! Ojek payung, sini!” Teriakan lembut dari seberang membangunkan lamunanku. Mbak ber-tas mentereng tadi melambaikan tangannya buru-buru. Ah ya, rezekiku datang!

Aku bergegas menyeberang jalan sambil membayangkan Bapak tersenyum tanpa batuk-batuk lagi. Aku tidak mendengar apa-apa sampai sinar dari kanan menerangi sekujur tubuhku. Hantaman keras melemparku ke tepian trotoar. Selanjutnya sepi.


 

*fanfiksi kecil-kecilan aja.

*trivia : Kebayang setting-nya adalah perempatan Stadion Mandala Krida.

*clue : hujan, sepatu, menunggu